Instagram
Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Thursday, November 28, 2019

Mendengarkan

Pada bulan November ini, saya banyak mengalami hal-hal baru yang tak terduga. Dari pengalaman ini, saya mencoba untuk merangkumnya. Dan ini hanyalah pendapat dan pandangan saya. Bukan untuk 'dibenarkan' atau 'disalahkan'.

Pada tanggal 19 November 2019, saya berkesempatan mengikuti rapat di salah satu kementrian. Jujur, rapat ini 'bukan saya banget'. Hahaha. Tapi karena diharuskan untuk berangkat, maka saya meneguhkan hati dan pikiran untuk bisa mengikutinya. 

Memang segala sesuatu itu ada balance-nya. Positif dan negatifnya. Positifnya adalah, saya jadi punya pengalaman bagaimana situasi saat rapat di kementrian, bertemu dengan para 'pakar' di bidangnya, bertemu dengan para 'cendekia' (Doktor, mungkin Profesor), sedangkan saya, hanya kroco mumet, instruktur receh yang 'berbicarapun saya sulit' (ikutan iklan).

Daaann, untuk negatifnya (saya merasa kalau hal ini negatif, mungkin untuk orang lain, belum tentu), adalah, kebanyakan dari peserta rapat seperti tidak memahami apa yang disampaikan oleh peserta sebelumnya. Mereka kebanyakan lebih dahulu memprotek (defensif) dirinya atau unitnya atau apalah, saya pun tak paham. Mereka tidak mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan. Sebelum selesai, mereka sudah dengan mudah membuat kesimpulan dan kemudian menyerang. Apakah memang kebanyakan rapat berjalan seperti itu? Saya pun tak paham.


Lalu, yang masih hangat (baru beberapa hari ini) adalah, viral-nya berita mengenai artis AM yang dihujat karena wawancaranya dengan acara di luar negeri. Kalau saya pribadi sih merasa tidak ada yang salah dengan wawancara tersebut (durasi 27 menit). Dia hanya menyampaikan kebenaran. Bukan salah dia juga kalau dia terlahir dengan darah seperti itu. Tidak ada juga dia mendiskreditkan negara ini. Pertanyannya, sudahkah para penghujat tersebut mendengarkan dengan baik seluruh interview tersebut?

Tidak bisakah terlebih dahulu mendengarkan dengan seksama? Saya rasa, kalau setiap orang mau mendengarkan, apalagi mau 'standing on someone's shoes', pasti orang-orang tersebut akan mempunyai perspektif berbeda dalam memandang setiap permasalahan, tanpa terburu-buru membuat kesimpulan, mengkotak-kotakan, lalu menghakiminya.

Di lain kesempatan, saat saya terbang dari Jambi ke Jakarta, saya duduk sederet dengan seorang bapak. Awalnya, dia menyapa saya karena dia ingin duduk di seat saya. Tapi dengan sopan saya jawab : 'kita duduk sesuai seat dulu ya pak'. Dan bapak tersebut mau mengerti, sambil berkata :'iya, takutnya nanti di sebelah saya (sisi satunya), penumpangnya wanita'. Singkat cerita, akhirnya kami tetap duduk sesuai seat kami masing-masing. 

Beberapa saat setelah take off, bapak tersebut kembali membuka pembicaraan. Dan yang lucunya, saya itu biasanya paling malas untuk making conversation dengan orang tidak dikenal. Tapi kok sama bapak ini, saya menjawabnya dengan santai. Dari pembicaraan kami, saya tahu bahwa bapak ini bukan orang sembarangan. Secara, dia kenal dengan bapak lainnya yang di seberang gang kami, yaitu bapak Marzuki Usman. Sedangkan saya, ingat pun tidak, kalau bukan bapak tersebut yang bilang, hahaha, saya parah.

Saya banyak mendapat pelajaran dan pandangan berbeda setelah berbicara dengan bapak ini. 'Jaman milenial ini, jangan ada lagi senior-junior. Kalau mau negara ini maju dan ada perubahan ke arah yang lebih baik, maka setiap orang harus mau mendengarkan, harus berani menyampaikan ide, harus berani dan mau dikoreksi. Karena, saat ada Senioritas, maka Junior akan enggan untuk menyampaikan ide-ide, karena ter-barikade oleh senioritas, padahal junior mempunyai ide yang baik. Lalu yang senior merasa mempunyai kekuatan untuk memboikot ide tersebut. Jadi jalan di tempat deh, ga maju-maju'.

'Lalu, ada juga orang-orang yang hanya tahu 50% dan orang-orang yang memang tahu 100%. Orang-orang yang tahu 50% ini akan bertingkah laku seperti tahu 100%. Bagaimana cara menambah yang sisa 50% nya? Ya dengan cara marah, defensif, dan bahkan menyerang'. Hahahaha, terjawab sudah kegundahan hati yang saya rasakan saat saya selesai mengikuti rapat di kementrian yang saya sebutkan di atas. 

Memang tidak mudah untuk bisa mendengarkan dengan baik, karena pada hakikatnya, manusia itu lebih senang didengarkan daripada mendengarkan, lebih senang dipuji daripada memuji, dan manusia itu ingin selalu menjadi yang utama. Tapi kalau semuanya tidak mau berusaha, maka tidak akan ada kemajuan. Presidennya sekarang hanya S-1, menterinya bisa ada yang S-3, tapi yang S-1 mempunyai ide-ide yang milenial. Menterinya cuma S-2, tapi pembantunya ada yang S-3 bahkan profesor. Tapi sang mentri mempunya visi yang milenial. Nah, apakah akan terus terpaku dengan senioritas, dan hanya bisa marah untuk mengisi sisa 50% tadi?

Kita doakan semoga akan ada perubahan baik dalam setiap aspek kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, berumah tangga, bersosialisasi, dan bernegara.

*Terima kasih Pak  (Dosen UNJA, Staff ahli BRG, saksi ahli) untuk diskusinya.

Tuesday, August 06, 2019

Cerita di Hari Minggu, 4 Agustus 2019

Sebenarnya, semua kegiatan di hari minggu ini, bukan rencana saya, kecuali survey sekolah di daerah sabang. Jadi, saya hanya mengikuti rencana suami yang memang sudah mengatur semua rencana di hari minggu ini. Dan, ternyata, salah satunya adalah, mencoba MRT.
    
Singkat cerita, kami tiba di stasiun MRT Bundaran HI. Setelah tap kartu, kami masuk ke ruang tunggu. Tidak berapa lama, datanglah rangkaian MRT, lalu kami naik. Kami dapat tempat duduk. Tapi tidak berapa lama, datanglah segerombolan ibu-ibu yang berkostum atasan merah dan bawahan batik. Mereka sudah cukup berumur. Tapi hebohnya luar biasa (foto-foto, teriak-teriak dengan temannya, minta orang lain bertukar tempat duduk, menyuruh petugas untuk pergi karena ‘dianggap mengganggu’ background sesi foto mereka, dan juga candaan/celotehan mereka). Akhirnya saya dan suami, tersingkirkan. Mereka yang duduk semua. 
    
Selang beberapa waktu, tiba-tiba semua lampu, baik yang di dalam rangkaian kereta maupun yang di ruang tunggu, mati. Gelap, tapi masih bisa melihat sekeliling. Lalu ada suara di announcer, sampai 3x pengumuman, yang akhirnya petugas secara tersirat menyarankan untuk naik transportasi lain. Maka, saya dan suami keluar dari rangkaian untuk melanjutkan kegiatan kami yang lain. Tapi 99,9 % penumpang lainnya masih bertahan di rangkaian. Saya tidak tahu, kapan akhirnya mereka keluar karena mengetahui bahwa gangguan listriknya bertahan sampai keesokan harinya. Hahaha.
    
Saat kami keluar dari stasiun, yang memang bertangga cukup curam, saya melihat para penumpang yang sudah sepuh harus mengesot di tangga untuk bisa menuju luar. Kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Lift tidak berfungsi. 
    
Dan akhirnya, saya dan suami batal menjajal MRT, rencana kegiatan hari minggu saya dan suami pun jadi berubah semua, karena suami harus ke kantor untuk urus genset dan perlengkapan lainnya agar tetap bisa beroperasi seperti seharusnya.



    

Friday, December 22, 2017

Hari Ibu

Hari ini hari jumat tanggal 22 Desember 2017, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Semua timeline medsos berisi tentang hari ibu, baik ucapan maupun meme.
Buat saya, memang jadi kurang gregetnya, karena sudah tidak memiliki sosok ibu di dunia. Beliau sudah kembali ke rumah penciptanya 4 tahun yang lalu.
Bersyukurlah mereka yang masih memiliki ibu.

Di luar kemeriahan tentang hari ibu, ada hal yang membuat saya ingin menulis atau lebih tepatnya ingin mengunjungi blog saya ini yag sudah sangat lama saya tinggalkan.

Berawal dari beberapa waktu yang lalu, saya lupa kapan tepatnya, ada seorang tetangga yang menyapa saya saat sedang membersihkan halaman. Setahu saya, tetangga ini, seorang ibu, yang sudah pindah rumah karena ikut anaknya yang menikah. Singkat cerita, mungkin lebih tepatnya adalah curhat, ibu ini merasa gundah gulana karena kondisi rumah tangga anak yang mengajaknya pindah dan tinggal bersamanya tersebut. Suaminya (menantu sang ibu), memaksa si anak untuk memilih antara dirinya (mantu) atau sang ibu. Hal ini karena menantu tersebut tidak senang dengan keberadaan sang mertua (sang ibu). Akhirnya anak ibu itu memutuskan untuk tetap bersama ibunya dan pindah kembali ke rumah lama (rumah ibu).

Miris, masih ada manusia seperti itu. Dia kenal anaknya (istrinya), karena ada ibu yang melahirkannya ke dunia. ‘Apabila dia ingin menikah (dahulu), dia harus siap menikah dengan anjingnya’.

Tapi, pasti besar upah dan pahala anak yang membela ibu yang telah melahirkan dan merawatnya.

Itulah Hari Ibu, hari ini.

Wednesday, September 16, 2009

PEROKOK OH PEROKOK


PEROKOK OH PEROKOK
Perjalanan pulang malam mini benar-benar perjalanan yang penuh perjuangan. Legaaaa banget akhirnya bisa sampai di rumah.
Seperti biasa, hari ini aku mengajar di taman surya sampai pk.18.30. Yang tidak biasa adalah, pada saat waktunya pulang, my soulmate menelepon dan memberitahukan bahwa doi tidak bisa menjemput diriku. Sedih sih, tapi apa boleh buat. Pekerjaannya di kantor menumpuk. Maklum, sudah mau libur hari raya.
Singkatnya, aku pulang dengan menggunakan kendaraan umum. Dimulai dari menunggu angkot di taman surya. Dari menunggu dengan perasaan santai tapi berharap, sampai akhirnya sudah tidak ada perasaan apa-apa, itu angkot ga muncul-muncul. Akhirnya aku putuskan mau cari ojek. Sebenarnya aku malaass sekali untuk naik ojek. Pertama, lebih mahal memang. Tapi sepadan karena waktu tempuh lebih cepat. Kedua, mereka sering sembarangan mengendarai motornya. Aku jadi takut jatuh dan deg-degan. Itulah kenapa aku tetap cinta angkot.
Di saat-saat kritis aku mau cari ojek. Eh, tiba-tiba terlihatlah sesosok bentuk kendaraan minibus, berwarna merah pula. Duh, senangnya. Tapi ternyata saudara, angkot itu mau pulang dan bukan angkot trayek di daerah itu. Yah, gigit jari lagi. Tapi puji Tuhan, ga lama berselang, di belakang angkot pertama tadi muncul juga angkot tumpanganku. AKhirnya aku naik angkot tsb. Total waktu menunggu lebih kurang 35 menit.
Perjalanan setelah itu juga bukanlah perjalanan yang menyenangkan. Angkotnya ternyata isi bensin dulu, belum macet yang super heboh dari taman palem ke cengkareng. Pembangunan fly over, plus orang belanja lebaran, plus kendaraan, plus debu, membuat semakin berwarna perjalanan dengan angkotku tercinta.
Akhirnya sampailah diriku di perempatan cengkareng. Lalu aku lanjut untuk naik angkot berikutnya. Di angkot ini sih ga terlalu aneh dan ajaib. Tapi angkotnya seperti melayang-layang. Jalannya ga mantep. Ya sudahlah, aku nikmati saja. Dan tibalah aku di perempatan mal puri. Lalu aku berganti kendaraan menggunakan kopaja.
Sebelum aku naik kopaja itu, ternyata salah satu kopaja yang lain sudah memindahkan penumpangnya ke kopaja yang akan aku tumpangi. Alhasil, penuhlah kopaja tsb. That’s ok. Yang tidak ok adalah, ada kopaja berikutnya yang juga memindahkan penumpangnya ke kopaja yang aku tumpangi. Total, dua bus yang berisikan penumpang telah berpindah ke kopaja yang aku tumpangi. Kebayang ga gimana riuhnya di dalam bus. Mungkin seperti ayam atau kambin yang mau dibawa ke tempat pemotongan. That’s ok. Itulah resikonya pengguna angkutan umum. Walaupun sebagai penumpang sih aku pengennya angkutan umum itu bisa seperti angkutan umum di singapur or di Australia. Tapi itu sih mimpi di siang bolong. So, just live with it. Terima nasib.
Pada saat aku naik bis tsb, memang ada penumpang yang merokok dengan perasaan bersalah, kalo boleh dibilang begitu. Karena kalau diperhatikan, doi ga nyaman merokok, it’s obvious. Tapi mungkin karena sayang rokoknya cuma punya sebatang dan ga bisa beli lagi or karena tanggung, akhirnya doi tetap memaksakan merokok. Lalu aku liatin aja itu orang. Lama-lama doi ga enak juga, akhirnya dimatikan lah itu rokok. Good.
Tapi kok ternyata masih terasa bau rokok. Lalu aku coba menengok ke belakang. Karena tempat aku berdiri di dalam bis penuh sesak, maka aku agak sulit untuk melihat orang tsb. Lagi pula, dalam benakku hanya ada satu pikiran yaitu aku harus waspada terhadap tasku. Singkatnya akhirnya aku menemukan sosok orang tsb. Pertama aku hanya liatin aja orang itu. Terus dan terus. Tapi ga ada respon. Rokoknya tetap nempel di bibir mulutnya, menyala. Padahal di depan orang tsb, juga berdiri penumpang lain yang kepalanya or rambutnya sangat mungkin tersundut oleh rokok orang itu. Keseeeellll banget. Aku hanya bisa pasrah. Tapi tiba-tiba, mukaku diserbu oleh abu rokok orang itu. Maklum, kaca-kaca bis terbuka dengan sangat anggunnya. Wah, naik pitamlah diriku. Tapi aku mencoba untuk tetap elegan dalam menegur orang tsb. “Pak, bisa minta tolong dimatikan dulu rokoknya?” lalu orang tsb bertanya dengan mulut yang tertutup karena mempertahankan rokoknya. “Kenapa?’, katanya. Aku ulangi lagi pertanyaanku. Jawabannya bener-bener bikin gue gemeteran. Gemeteran karena menahan keseeelll. Dia menjawab. “Susah! Lagian kan ga dikebulin”. Maksudnya ga ada asapnya barangkali. Gemezzz banget. Tapi masih tetap dengan menahan emosi jiwa dan berusaha untuk tetap elegan, aku membalas. “Tapi abu rokoknya kena ke muka saya pak”. Lalu jawabnya, “ooo”. Kemudian mematikan rokoknya. Grrrr..
Setelah aku turun dari kopaja, bapak itu masih mengamat-amati diriku. Takut juga sih. Sambil terus berdoa, aku cepat-cepat melarikan diri untuk ganti ke angkot berikutnya. Fyuuuhhh..here I am now. Lega udah sampai di rumah.
Yang mengganjal pikiranku adalah, apakah berhubungan dengan rokok dan menjadi pemujanya itu, menjadikan orang tumpul hati, ga punya hati nurani, ga punya perasaan, menindas hak asasi orang lain, egois. Sampai-sampai di situasi dan kondisi yang sudah sedemikian padatnya. Yang untuk cari oksigen diantara manusia-manusia di dalam bis kota saja sudah sulit, harus ditambah pula dengan asap dan sisa pembakaran dari perokok. Please deh. Sepertinya orang-orang perokok itu takut kalau-kalau sekian menit or detik berikutnya mereka akan mati dan tidak bisa merokok sebelum ajalnya. Jadi harus saat ini, detik ini, merokok ya merokok. Hidup rokok!! Ga harus gitu kan?
Mudah-mudahan ga ada yang ketiga kali deh. Karena sebelum kejadian mukaku tertebar abu rokok, aku juga pernah tersundut api rokok di bis karena perokok itu memegang rokok yang menyala, lalu aku harus berpegangan yang ternyata api rokoknya jatuh di tanganku. Sedih banget ya. Kesel banget ya.
Sadarlah hai para perokok. Merokoklah pada tempatnya. Hormati orang lain.

Sunday, May 28, 2006

Quake kills 2,500 in Indonesia...


Earthquake kills more than 2,500 in Indonesia
Thousands more injured in central Java province after 6.2 temblor

A man searches for his belongings among the ruins of his house after an earthquake in the village of Gantiwarno, outside Yogyakarta, Indonesia, on Saturday.
View related photos


MSNBC News Services
Updated: 10:07 a.m. ET May 27, 2006


YOGYAKARTA, Indonesia - A powerful earthquake flattened homes and buildings in central Indonesia early Saturday, killing more than 2,500 people and injuring thousands more in the country’s worst disaster since the 2004 tsunami.
As darkness fell in the heartland of Indonesia’s main island of Java, thousands were preparing to spend the night outside their ruined homes or on the grounds of mosques, churches and schools. “It’s pitch dark. We have to use candles and we are sitting outside now. We are too scared to sleep inside. The radio keeps saying there will be more quakes. We still feel the tremors,” said Tjut Nariman, who lives on the outskirts of Yogyakarta.
The magnitude 6.2 quake struck near the ancient city of Yogyakarta 250 miles east of the capital, Jakarta, around dawn as many people slept, causing death and damage in several nearby towns.

TV footage showed damaged hotels and government buildings, and several collapsed buildings. Roads and bridges were destroyed, hindering efforts to get the wounded to hospitals. Some phone lines also were cut.
“It felt really powerful, and the whole building shook,” said Narman, a receptionist at a hotel in Yogyakarta. “Everyone ran from their rooms.”
President Susilo Bambang Yudhoyono ordered the army to help evacuate victims, as panicked residents ran into the smoldering streets, many clutching young children. He said he would head to the disaster zone in Central Java province later Saturday.
Rising death tollNine hours after the quake struck, the number of dead stood at 2,517, said Direvan, an official in the Social Affairs Ministry’s task force office, with two-thirds of the fatalities occurring in the devastated district of Bantul.
“The numbers just keep rising,” said Arifin Muhadi of the Indonesian Red Cross, adding that nearly 2,900 people were hurt.
In the chaos that followed the quake, rumors of an impending tsunami sent thousands of people on Java fleeing to higher ground in cars and motorbikes. But Japan’s Meteorological Agency said there was no danger of a killer wave.
Doctors struggled to care for hundreds of injured people lying on plastic sheets, straw mats and even newspapers outside the overcrowded hospitals, some hooked to intravenous drips dangling from trees.
“We need help here,” said Kusmarwanto of Bantul Muhammadiyah Hospital, the closest hospital to the quake’s epicenter, adding that his hospital alone had 39 bodies.
“There so many casualties. Houses ... are flattened. Many people still need to be evacuated,” he said.
At nearby Dr. Sardjito Hospital, health officials tallied 60 dead, but more bodies were lined up in the hallway and some family members were taking them home before they could be added to the official toll.
“We have hundreds of injured people, our emergency care unit is overwhelmed,” said Heru Nugroho.
The quake cracked the runway in Yogyakarta’s airport, closing it to aircraft until at least Sunday while inspections take place, Transport Minister Hatta Radjasa said.
Officials said they did not know yet if the 9th century Buddhist temple, considered one of the seven wonders of the world, was affected in the quake.In hardest hit Bantul district, Subarjo, a 70-year-old food vendor, was sobbing next to his dead wife, his house destroyed.
“I couldn’t help my wife ... I was trying to rescue my children, one with a broken leg, and then the house collapsed. I couldn’t help my wife,” he said weakly.
“I have to accept this as our destiny, as God’s will,” he added.
Volcanic eruption The quake’s epicenter was close to Mount Merapi, which has been rumbling for weeks and sending out large clouds of hot gas and ash.
Activity increased on Saturday, with one eruption that came soon after the quake sending debris some 2 miles down its western flank, but Bambang Dwiyanto of the Energy and Mineral Ministry said the two events did not appear to be directly related.
Almost all people had already been evacuated away from the volcano’s danger zone, and there were no reports of injuries as a result of the eruption.
Indonesia, the world’s largest archipelago, is prone to seismic upheaval due to its location on the so-called Pacific “Ring of Fire,” an arc of volcanos and fault lines encircling the Pacific Basin.
A magnitude 9.1 earthquake on Dec. 26, 2004, under the sea off the coast of Indonesia’s Sumatra Island triggered a tsunami that killed more than 131,000 people in Aceh province, and more than 100,000 others in nearly a dozen other countries.
© 2006 MSNBC Interactive

Tuesday, May 24, 2005

Cara Orang Bijak Menyelesaikan Masalah

Di sebuah negara timur tengah, ada sebuah aturan dalam keluarga bahwa 1/2 dari harta warisan jatuh ke tangan istri, 1/4 bagian untuk anak pertama, 1/5 bagian untuk anak kedua. Peraturan ini berjalan lancar sampai pada suatu saat ada masalah dalam pembagian 19 ekor unta.
Sebuah keluarga berkonsultasi pada seorang bijak yang berkata : "Mengapa hal tersebut menjadi suatu masalah?. Baiklah saya kan memberimu 1 unta sehingga memiliki 20 unta. Setengah dari jumlah itu 10 ekor, 1/4 bagian atau 5 ekor untuk anak pertama dan 1/5 bagian atau 4 ekor menjadi milik anak kedua. Jadi jumlahnya 19 ekor. Jika semua masalah sudah selesai, maka saya akan mengambil kembali unta yang kalian pinjam."

Monday, March 21, 2005

MANAGEMENT STRESS

Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut. -Stephen Covey

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey."

Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.""

Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

Start the day with smile and have a good day........

Wednesday, March 09, 2005

Your Love Profile

Sagittarius - Your Love Profile
Your positive traits: Your playful nature brings out the happy inner-child in datesYou're willing to take risks in love... and reap the rewardsYou've got a killer sense of humor that gets talking with any hottie you meet Your negative traits: Sometimes your sarcasm comes off as biting and abrasiveYou can be brutally honest, tactless, and truthful even when it hurtsYou're such a free spirit that you find it hard to commit to one person Your ideal partner: Someone high energy who will pick up and out with you wheneverIs creative and fun - thinking of new adventures for the two of youIs bold... and not afraid to tell you "I love you" early on Your dating style: Unpredictable. You never know how the night is going to end up. Your seduction style: Daring. You're always pushing to try something new in the bedroom.Full of imagination. You've always got a new fantasy you're dying to try.Spritually driven. Sex for you can be an other-worldy act. Tips for the future: Realize that while freedom is great - sometimes a stable relationship is better.It's not all about you. Focus on your parnter's needs every once and a while.Make up your mind about your parnter, and stick to it. Your fickle will ruin things otherwise. Best place to meet someone online: American Singles - tons of flirting and fun to suite your inner extrovert Best color to attract mate: Purple Best day for a date: Thursday