Instagram
Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Wednesday, December 31, 2025

Hari Terakhir di 2025

Ternyata, Desember-nya lumayan lari dari imajinasi. Tapi gak apa-apa, akhirnya selesai juga bulannya.

Ternyata adik yang sakit akhirnya didiagnosa DB. Dirawat di RS selama 6 hari, setelah kembali ternyata tidak langsung kuat. Sudah 2 minggu sejak keluar dari RS, dia masih belum bisa aktivitas normal karena masih lemas, oleng, mulut sariawan, makan belum normal, dan BAB tidak tiap hari. 

Efek dari kondisi di atas, jadwal care giver ala kami menjadi timpang. Haha. Tapi ga mau stres. Capek boleh, stres jangan. Ku jalani dengan ngos-ngosan, tapi ga pake stres. Stres-nya malah datang saat tetiba bangun pagi disuguhin cari apron, yang ingatannya ga hadir sampai detik ini. Biarlah apronnya pakai apa saja.

Yang bikin agak hepi adalah, hari ini ijin gak ke papah, karena rumah sendiri sama sekali gak kepegang. Padahal, liburnya sudah mau habis. Jadi, bisa ganti gordyn, ganti sprei, lap kaca dan teman-temannya, nyapu dan pel, jeda rehat: nonton jumbo, beresin sepatu, urus tanaman dalam rumah, cupir, kalau masih kuat mau cuci gombalan dan tirai kamar mandi. Pengen jogging juga. Hahaha. Yang belum kepegang adalah menyiangi rumput di halaman, karena seharian hujan.

Semoga esok hari, awal 2026, menjadi awal segala sesuatu yang baik, berkah, dan berguna. Kita kuat menjalani hari-hari dan selalu ada solusi saat ada tantangan yang hadir. Amin.

Rabu, 31 Desember 2025

HAPPY NEW YEAR



Sunday, December 14, 2025

AGAK LAEN




Hari ini ada yang enggan pergi ke Gereja. Tapi dia sudah bangun pagi dan mandi. Singkat cerita, akhirnya kami keluar rumah di waktu yang terbilang masih pagi. Di perjalanan, kami mengarah ke TangSel. Tapi, tiba-tiba, dia berubah pikiran dan akhirnya berputar haluan menuju ke Jakarta.

Karena belum sarapan, kami mencari tempat untuk makan. Sepanjang jalan berdiskusi, tidak menemukan kesepakatan. Tapi, saat di pertigaan lampu merah kami berhenti, ada warteg yang terlilhat bersih dan cemerlang..haha. Warnanya hijau dan oren. Akhirnya kami sarapan di situ. Berdua Rp 39.000 saja.

Dari sarapan, kami bingung lagi mau kemana. Diputuskan mau ke suatu tempat nongki yang mesin edc nya disediakan oleh kantor Pak Su. Setiba di seputaran lokasi, dia berubah pikiran karena melihat tempat ngopi yang unik, vintage. Kami terdampar di situ. Tempatnya seru, F&B nya juga nikmat, walaupun harganya 10X lipat dibanding sarapan kami. Haha..

Setelah selesai ngopi, rencananya kami mau lanjut nonton, dan akhirnya kami nonton 'Agak Laen'. Ngakak beramai-ramai se-studio..lol. Lalu di tengah film berlangsung, ada telpon masuk. Karena bising, akhirnya kirim iMssg. Ternyata dibutuhkan di Misa di Gereja di Bintaro..Jeng..jeng..
Langsung deh ngacir, sampai pegal pundak dan punggung karena tegang di atas motor. Plus gemetaran, deg-deg-an, khawatir tidak bisa tiba on time. Plus belum tahu lagu-lagunya. 

Sepanjang perjalanan, berusaha menenangkan diri sendiri. 'Ini bukan kekuatanku, Beliau yang menyuruhku, maka Dia yang akan mendukungku'. Puji Tuhan, tiba sekitar 35 menit sebelum Misa. Langsung setting electone, dan koordinasi dengan anggota koor. Seluruh proses berjalan lancar, puji Tuhan. 

Yang tak disangka, ternyata pemimpin misanya adalah Pastor yang pada tahun 2016, kami bersama nge-bolang di Poland. Huaaa...senangnya. 

Jalan hidup kita itu bukan kebetulan, semua sudah diatur. Tapi seringnya kita kurang peka. Hari ini, kuikuti semua prosesnya, dan memang jadi makin agak laen. Tidak bisa dinalar. Hanya bisa dinikmati dan diimani. Pondok kacang, Meruya, Cikini, Metropole, Bintaro, Graha Raya, semua dilalui dengan aman. Bersyukur juga, adik yang sedang sakit, ternyata tidak perlu dirawat di RS.

Summary:
1. Yang enggan ke Gereja akhirnya Misa
2. Ngopi lebih mahal dari makan berat
3. Bisa-bisanya, kostum hari ini sesuai dengan minggu Gaudete; Pink
4. Romo khotbah sambil nyanyi Cikini ke Gondangdia, aku riding Cikini ke Bintaro..wkwkwkwk
5. Bertemu Romo Doktor yang langka, hampir 10 tahun kemudian
6. Lagu-lagu misa, sudah pernah kumainkan, jadi lebih tenang dan PD
7. Adik tidak dirawat

Terima kasih Tuhan, untuk hari yang agak laen yang boleh kami lalui bersama kasih penyertaan-Mu

PS. Melanjutkan tulisan yang di post sebelum ini, keluarga yang sakit akhirnya sembuh jiwanya. RIP Tian.

Wednesday, June 10, 2020

Sehari-hari disaat pandemi

Hanya mau cerita

Sejak  pertengahan bulan maret 2020, saya dan juga hampir seluruh warga di Jakarta dan dunia, diharuskan berdiam/bekerja di rumah.

Tapi akhirnya saya menulis ini karena di bulan Juni ini, saya merasa lelah hati dengan kondisi ini. Dan mungkin teman-teman lain pun ada yang merasakan hal ini.

Saya berusaha untuk menikmati, tapi kok lelah. Saya merasa seperti debt collector yang harus mengejar-ngejar murid, belum lagi yang tidak bisa dihubungi karena tidur, lupa atau berbagai macam alasan. Lalu beberapa waktu kemudian, dengan tanpa rasa bersalah, minta untuk bisa les, ga peduli kalau saya ada murid lain atau ada meeting, atau ada kegiatan lain. Belum lagi yang minta koreksi untuk hasil video yang mereka buat. Tidak kenal waktu, mau subuh, mau jam tidur/istirahat (semacam spbu 24 jam), mereka kirim saja dan minta komentar. Ada juga orang tua yang tidak menyampaikan info seperti yang saya harap bisa disampaikan ke anaknya dengan tepat. Alhasil membuat jadwal mengajar jadi berantakan. Belum lagi mengatur jadwal dilakukan sendiri, merayu/approach murid dan ortu dilakukan sendiri, membuat absen sendiri, bahkan menagih uang kursus juga sendiri. Me, becoming one man (woman) show.

Tapi tidak dipungkiri juga, pasti adalah yang bisa dinikmati. Salah satunya yang terasa adalah, saat hujan deras, tetap bisa mengajar tanpa khawatir kuyup karena kebasahan di perjalanan. Hehehehe..

Yah, itu tadi, cuma mau cerita ajah, Tanpa ada maksud apa-apa.

Nduk, semangat yooo..



Thursday, November 28, 2019

Mendengarkan

Pada bulan November ini, saya banyak mengalami hal-hal baru yang tak terduga. Dari pengalaman ini, saya mencoba untuk merangkumnya. Dan ini hanyalah pendapat dan pandangan saya. Bukan untuk 'dibenarkan' atau 'disalahkan'.

Pada tanggal 19 November 2019, saya berkesempatan mengikuti rapat di salah satu kementrian. Jujur, rapat ini 'bukan saya banget'. Hahaha. Tapi karena diharuskan untuk berangkat, maka saya meneguhkan hati dan pikiran untuk bisa mengikutinya. 

Memang segala sesuatu itu ada balance-nya. Positif dan negatifnya. Positifnya adalah, saya jadi punya pengalaman bagaimana situasi saat rapat di kementrian, bertemu dengan para 'pakar' di bidangnya, bertemu dengan para 'cendekia' (Doktor, mungkin Profesor), sedangkan saya, hanya kroco mumet, instruktur receh yang 'berbicarapun saya sulit' (ikutan iklan).

Daaann, untuk negatifnya (saya merasa kalau hal ini negatif, mungkin untuk orang lain, belum tentu), adalah, kebanyakan dari peserta rapat seperti tidak memahami apa yang disampaikan oleh peserta sebelumnya. Mereka kebanyakan lebih dahulu memprotek (defensif) dirinya atau unitnya atau apalah, saya pun tak paham. Mereka tidak mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan. Sebelum selesai, mereka sudah dengan mudah membuat kesimpulan dan kemudian menyerang. Apakah memang kebanyakan rapat berjalan seperti itu? Saya pun tak paham.


Lalu, yang masih hangat (baru beberapa hari ini) adalah, viral-nya berita mengenai artis AM yang dihujat karena wawancaranya dengan acara di luar negeri. Kalau saya pribadi sih merasa tidak ada yang salah dengan wawancara tersebut (durasi 27 menit). Dia hanya menyampaikan kebenaran. Bukan salah dia juga kalau dia terlahir dengan darah seperti itu. Tidak ada juga dia mendiskreditkan negara ini. Pertanyannya, sudahkah para penghujat tersebut mendengarkan dengan baik seluruh interview tersebut?

Tidak bisakah terlebih dahulu mendengarkan dengan seksama? Saya rasa, kalau setiap orang mau mendengarkan, apalagi mau 'standing on someone's shoes', pasti orang-orang tersebut akan mempunyai perspektif berbeda dalam memandang setiap permasalahan, tanpa terburu-buru membuat kesimpulan, mengkotak-kotakan, lalu menghakiminya.

Di lain kesempatan, saat saya terbang dari Jambi ke Jakarta, saya duduk sederet dengan seorang bapak. Awalnya, dia menyapa saya karena dia ingin duduk di seat saya. Tapi dengan sopan saya jawab : 'kita duduk sesuai seat dulu ya pak'. Dan bapak tersebut mau mengerti, sambil berkata :'iya, takutnya nanti di sebelah saya (sisi satunya), penumpangnya wanita'. Singkat cerita, akhirnya kami tetap duduk sesuai seat kami masing-masing. 

Beberapa saat setelah take off, bapak tersebut kembali membuka pembicaraan. Dan yang lucunya, saya itu biasanya paling malas untuk making conversation dengan orang tidak dikenal. Tapi kok sama bapak ini, saya menjawabnya dengan santai. Dari pembicaraan kami, saya tahu bahwa bapak ini bukan orang sembarangan. Secara, dia kenal dengan bapak lainnya yang di seberang gang kami, yaitu bapak Marzuki Usman. Sedangkan saya, ingat pun tidak, kalau bukan bapak tersebut yang bilang, hahaha, saya parah.

Saya banyak mendapat pelajaran dan pandangan berbeda setelah berbicara dengan bapak ini. 'Jaman milenial ini, jangan ada lagi senior-junior. Kalau mau negara ini maju dan ada perubahan ke arah yang lebih baik, maka setiap orang harus mau mendengarkan, harus berani menyampaikan ide, harus berani dan mau dikoreksi. Karena, saat ada Senioritas, maka Junior akan enggan untuk menyampaikan ide-ide, karena ter-barikade oleh senioritas, padahal junior mempunyai ide yang baik. Lalu yang senior merasa mempunyai kekuatan untuk memboikot ide tersebut. Jadi jalan di tempat deh, ga maju-maju'.

'Lalu, ada juga orang-orang yang hanya tahu 50% dan orang-orang yang memang tahu 100%. Orang-orang yang tahu 50% ini akan bertingkah laku seperti tahu 100%. Bagaimana cara menambah yang sisa 50% nya? Ya dengan cara marah, defensif, dan bahkan menyerang'. Hahahaha, terjawab sudah kegundahan hati yang saya rasakan saat saya selesai mengikuti rapat di kementrian yang saya sebutkan di atas. 

Memang tidak mudah untuk bisa mendengarkan dengan baik, karena pada hakikatnya, manusia itu lebih senang didengarkan daripada mendengarkan, lebih senang dipuji daripada memuji, dan manusia itu ingin selalu menjadi yang utama. Tapi kalau semuanya tidak mau berusaha, maka tidak akan ada kemajuan. Presidennya sekarang hanya S-1, menterinya bisa ada yang S-3, tapi yang S-1 mempunyai ide-ide yang milenial. Menterinya cuma S-2, tapi pembantunya ada yang S-3 bahkan profesor. Tapi sang mentri mempunya visi yang milenial. Nah, apakah akan terus terpaku dengan senioritas, dan hanya bisa marah untuk mengisi sisa 50% tadi?

Kita doakan semoga akan ada perubahan baik dalam setiap aspek kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, berumah tangga, bersosialisasi, dan bernegara.

*Terima kasih Pak  (Dosen UNJA, Staff ahli BRG, saksi ahli) untuk diskusinya.

Saturday, November 09, 2019

In God's Plan : Sangat Mendadak.

Sudah beberapa bulan (mungkin 2 bulan), saya dan teman-teman mengintip tanggal 8, 9, dan 10 November. Kenapa? Karena, eh karena, itu adalah tanggal merah di hari sabtu (9 November).

Kami berencana ingin ke Semarang. Tapi apa daya, ternyata tiket kereta yang kami harapkan sesuai dengan jam keberangkatan yang kami incar, sudah habis. Akhirnya kami cari tujuan lain.

Dibuatlah pilihan seperti Cirebon dan Bandung. Ternyata teman-teman lebih banyak yang memilih Bandung. Kalau Cirebon, panas. Begitu kata mereka. Tapi kembali, ternyata jadwal keberangkatan kereta tidak cocok dengan waktu kami. Alhasil, kami mencari pilihan lain untuk sekedar 'pelarian singkat'.

Kemudian, diputuskan untuk sekedar nonton dan makan di hari sabtu. Hanya 1 hari. Oleh karena itu, saya menerima pekerjaan yang ditawarkan di hari minggu (10 November). Aman.

Beberapa hari berlalu sejak keputusan akhir. Tetapi saya mendapat info untuk mengikuti seminar di tanggal 9 dan 10 November. Wadaw. Saya jadi berkhianat ke teman-teman:(
Mereka kecewa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. 

Seminggu setelah info untuk mengikuti seminar, kembali saya mendapat info bahwa ternyata saya tidak diikutsertakan dulu di seminar kali ini. What?! 
Kejadiannya tepat dua hari sebelum seminar dilaksanakan. Sangat mendadak. 

Tapi, bersamaan dengan info pembatalan seminar (sekitar 15 menit berselang), masuklah pesan WA yang isinya memberikan saya pekerjaan di hari sabtu. Sangat mendadak. 
Berhubung saya jadinya tidak ada jadwal di hari sabtu karena batal seminar, maka saya menerima pekerjaan tersebut. Dan yang sangat berkesan adalah, honor langsung ditransfer saat itu juga, padahal saya belum bekerja. Hahahaha. Sangat cepat.




Saya membuat tulisan ini di hari sabtu, setelah selesai bekerja dadakan tersebut. Yang menyenangkan di hari ini adalah, saya bisa merasa bahagia berkumpul dengan orang-orang yang hadir di acara tersebut. Bisa mendengarkan cerita, bisa bernyanyi dengan semangat, bisa membuat keseluruhan acara menjadi seru. Daaaan, saat hendak pamit pulang, masih diberi salam tempel dan dibekali makanan, plus ucapan terima kasih.

Yang ingin saya bagikan adalah, bahwa sebagai manusia, seringkali kita mengalami hal-hal yang tidak jelas, berputar-putar tanpa tahu akhirnya seperti apa. Dan dengan kondisi seperti ini, biasanya kita menjadi khawatir dan tidak sabar. 'Ini maunya apa sih?' 

Sayapun sempat merasa demikian. 'Kok semua rencana tidak beres?!' Sempat sedih juga karena dibatalkan seminar secara sepihak. Tapi ternyata Tuhan sudah punya rancangan untuk saya yang tidak bisa diatur dan dipatahkan oleh siapa pun. Seperti :"kamu tenang saja, Aku punya rencana yang sangat baik untukmu, dimana kehadiranmu lebih dibutuhkan dan dihargai. Dan Aku juga mau memberikan berkat lainnya untukmu."

Kesedihan, kekhawatiran, dan kegalauan, berubah menjadi sukacita tak terhingga. Disakiti, direndahkan, dikhianati, pasti akan dirasakan setiap manusia. Tapi saat kita sungguh sudah menyerahkan seluruhnya kepada-Nya, Dia akan punya cara untuk menggantinya dengan sesuatu yang tak terduga.

Bersyukur untuk hari ini. Semoga menjadi berkat bagi yang lain. Terima kasih.









Tuesday, August 06, 2019

Cerita di Hari Minggu, 4 Agustus 2019

Sebenarnya, semua kegiatan di hari minggu ini, bukan rencana saya, kecuali survey sekolah di daerah sabang. Jadi, saya hanya mengikuti rencana suami yang memang sudah mengatur semua rencana di hari minggu ini. Dan, ternyata, salah satunya adalah, mencoba MRT.
    
Singkat cerita, kami tiba di stasiun MRT Bundaran HI. Setelah tap kartu, kami masuk ke ruang tunggu. Tidak berapa lama, datanglah rangkaian MRT, lalu kami naik. Kami dapat tempat duduk. Tapi tidak berapa lama, datanglah segerombolan ibu-ibu yang berkostum atasan merah dan bawahan batik. Mereka sudah cukup berumur. Tapi hebohnya luar biasa (foto-foto, teriak-teriak dengan temannya, minta orang lain bertukar tempat duduk, menyuruh petugas untuk pergi karena ‘dianggap mengganggu’ background sesi foto mereka, dan juga candaan/celotehan mereka). Akhirnya saya dan suami, tersingkirkan. Mereka yang duduk semua. 
    
Selang beberapa waktu, tiba-tiba semua lampu, baik yang di dalam rangkaian kereta maupun yang di ruang tunggu, mati. Gelap, tapi masih bisa melihat sekeliling. Lalu ada suara di announcer, sampai 3x pengumuman, yang akhirnya petugas secara tersirat menyarankan untuk naik transportasi lain. Maka, saya dan suami keluar dari rangkaian untuk melanjutkan kegiatan kami yang lain. Tapi 99,9 % penumpang lainnya masih bertahan di rangkaian. Saya tidak tahu, kapan akhirnya mereka keluar karena mengetahui bahwa gangguan listriknya bertahan sampai keesokan harinya. Hahaha.
    
Saat kami keluar dari stasiun, yang memang bertangga cukup curam, saya melihat para penumpang yang sudah sepuh harus mengesot di tangga untuk bisa menuju luar. Kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Lift tidak berfungsi. 
    
Dan akhirnya, saya dan suami batal menjajal MRT, rencana kegiatan hari minggu saya dan suami pun jadi berubah semua, karena suami harus ke kantor untuk urus genset dan perlengkapan lainnya agar tetap bisa beroperasi seperti seharusnya.



    

Saturday, July 13, 2019

Cerita dibalik sebuah foto-2

Orang, biasa mengagumi dan dikagumi. Seperti saya juga yang mengagumi hal berikut ini.

Begini ceritanya: Saat saya sedang makan siang, saya melihat seorang perempuan yang berbalut jaket salah satu provider ojek online. Harusnya sih biasa saja ya. Banyak kok perempuan yang berprofesi sebagai ojek online (ojol). Yang menjadi perhatian saya adalah, perempuan ini membawa seorang anak di punggungnya. Jeng..jeng..
Saya kurang paham, perempuan itu sedang bertugas atau sedang off. Tapi intinya adalah, perempuan itu bekerja tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu. Jempol banget deh untuk hal itu. Maka, apabila ada suami (laki-laki) yang menganiaya istrinya (perempuan) karena masalah sex, cemburu, keuangan, atau merasa superior. Heh!!. Lihat itu. Dibantu mencari nafkah, diurus urusan rumah tangganya supaya semua beres (suami dan anak-anak), mengesampingkan ego pribadi. Masih juga mau mencelakainya? 

PS: hanya bercerita, tanpa bermaksud apapun.







Saturday, June 15, 2019

Cerita dibalik sebuah foto (gambar)

Saat masuk ke sebuah tempat makan dan siap untuk memesan, maka saya berkata kepada pelayan, saya pesan ‘pisang ovo’. Lalu pelayan berkata : ‘ga bisa bu, sedang dalam proses’. Kemudian saya bertanya, pisang apa yang ada, dan pelayan bertanya kepada koki. Dijawab oleh koki bahwa semua pisang di menu, tersedia. Maka, kembali saya pesan ‘pisang ovo’ sambil menunjuk daftar menu. (Pisang Bakar Ovomaltine), dan sang pelayan mengerti. Rupanya pelayan mengartikan kalau saya bertanya ‘bisa ovo’ (cara bayar). Hahahaha

Setelah makanan, maka saya memesan minuman. Saya pesan Kopi Toraja V60. Proses memesan, aman. Lalu datanglah segelas kopi dengan peralatan vietnam drip plus krim kental manis di dalam gelas. Saya kaget. Lalu saya jelaskan kalau saya pesan V60, alias pakai filter, dan kopi hitam (tanpa gula). Kemudia pelayan ke barista untuk menanyakan, dan dijawab oleh barista bahwa mereka tidak mempunyai brewing jenis itu (V60). Tadinya kopi vietnam drip tersebut akan dibawa masuk kembali, tapi suami bilang ke pelayan untuk biarkan saja di meja, nanti diminum. 

Akhirnya saya pesan toraja baru dengan versi tubruk, sambil menjelaskan ke pelayan dengan tersenyum, bagaimana menyeduh kopi tubruk. Dan pelayan juga tersenyum karena sepertinya kalau tubruk, dia tahu cara membuatnya. Pesanan yang penuh cerita.

Salam JaMak!

 Inilah penampakan pesanan tersebut.

Kopi toraja tubruk, kopi toraja vietnam drip, dan pisang bakar ovomaltine

Saturday, June 08, 2019

Perjalanan ke Pattaya dan Bangkok (4-6 Juni 2019)

Perjalanan kali ini agak sedikit berbeda. Biasanya kami hanya akan pergi ‘dadakan’ (hari itu beli tiket, hari itu berangkat atau besoknya berangkat) di seputaran Indonesia (seringnya Bali). Tapi kali ini tiba-tiba muncul ide untuk pergi ke Thailand. Singkatnya, senin sore beli tiket dan dapat, lanjut tukar mata uang dan city check ini, maka selasa pagi kami terbang ke Don Mueang airport. Berbekal sedikit info dari 2 blog yang saya baca, maka kami sepakat untuk lanjut ke Pattaya setelah mendarat. Oh iya, kami memutuskan booking hotel terlebih dahulu untuk keperluan imigrasi. Perjalanan ke Pattaya  cukup nyaman. Kami naik bus. Lalu kami menginap di Sabai Wing. Menurut saya, Pattaya Beach biasa saja. Masih lebih bagus pantai-pantai di Bali dan Malang Selatan. Yang membuat Pattaya berbeda adalah kehidupan malamnya yang lebih ‘berani’.
Bus ke Pattaya


Setelah hari pertama di Pattaya, kami memutuskan untuk tidak buru-buru ke Bangkok pada hari kedua. Kami melanjutkan kegiatan di Pattaya, dan kami memilih ke The Sanctuary of Truth sebelum sorenya kami ke Bangkok.

Di Sanctuary inilah saya menemukan satu hal yang sangat menarik. Dari milyaran manusia di dunia, saya bisa berkenalan dengan seorang gadis Rusia yang ternyata mengajar di tempat dulu saya pernah mengajar. Kejadiannya adalah saat saya menawarkan diri untuk memotretnya karena dia datang seorang diri dan dia berdiri dekat-dekat saya sambil memandang object yang menjadi target foto. Setelah chit chat beberapa saat, maka kami bertukar IG. Dan ternyata, dia kost di daerah yang tidak jauh dari tempat tinggal orang tua saya.
Saya dan teman Rusia saya.
Setelah selesai di Sanctuary, kami memutuskan untuk menuju Ekkamai dari Pattaya, bukan Chatuchak (Mo Chit) seperti saat kami berangkat ke Pattaya. Setelah tiba di Bangkok, kami sedikit bingung dengan transportasi yang kami gunakan. Akhirnya kami putuskan menggunakan bus. Dan ternyata, daerah yang kami tuju untuk menginap berikutnya (Khao San Rd), lebih dekat bila kami turun di Mo Chit, bukan Ekkamai. Hahaha. Tapi tak apalah, justru karena hal tersebut, kami jadi ada cerita. 

Saat kami tiba di Bangkok, setelah naik kereta dari Ekkamai, kami bingung dengan nomor bus dan bus stop apa yang harus kami tuju untuk ke Khaosan, maka saya bertanya kepada seorang perempuan. Dan dia mengajak saya untuk lewat lalu lintas air. Wow, tidak disangka, kami jadi tahu hal yang belum tentu turis lain tahu. Tapi sayangnya perahu yang akan kami naiki ternyata sudah tidak beroperasi (Pk.19.55). Akhirnya kami disarankan untuk naik bus, dan perempuan itu kembali melanjutkan perjalanannya menggunakan perahu karena rute dia berlawanan dengan rute kami, dan perahunya masih beroperasi. Dan kami akhirnya menggunakan bus dan tiba dengan selamat di hotel kedua (Dang Derm in The Park).
Saya dan teman Thailand yang baik hati


Hari ketiga, kami memutuskan untuk mencoba Chao Phraya River Cruise sebelum sorenya kami kembali ke Jakarta. Perjalanan dilalui biasa saja. Menikmati Museum, Grand Palace, dan Wat arun. Ternyata waktu kami tidak mencukupi untuk menjelajah semua spot yang ada di setiap dermaga (pier). Akhirnya dari Wat Arun kami memutuskan untuk ikut kapal sampai ke pier akhir dan lanjut untuk kembali ke pier awal kami. Ternyata, di pier akhir, kami tidak bisa langsung ikut kembali ke pier awal. Semua penumpang harus turun dan menunggu untuk naik kapal selanjutnya yang kembali ke pier awal. Petugas memberi tahu bahwa kapal akan tiba 20 menit lagi. Saya bertanya ke petugas, apakah boleh menggunakan colokan listrik yang tersisa (1 spot) untuk mengisi batre hp. Lalu dia memperbolehkan. Yeay!. Tidak lama, kapal datang, maka saya dan para penumpang lain, berjalan menuju kapal. Hehehe. Saat sudah duduk, saya baru sadar kalau saya masih mengisi batre. Saya lompat dari kursi lalu berlari ke dermaga lagi. Karena sepanjang saya ikuti, kapal tidak pernah lama saat merapat di dermaga untuk naik-turun penumpang. Panik, bukan kepalang. Tapi saat saya lompat dari kapal ke dermaga, di saat bersaman, petugas yang tadi memperbolehkan saya menggunakan colokan, juga sedang berlari ke arah saya sambil membawa hp saya. Duh Gusti, selamat deh itu hp. Masih jadi milik saya. I said: thank you, thank you, thank you, 🙏 . Dia tersenyum. Saat kembali ke kapal, ditertawakan oleh penumpang lain. Untungnya, yang menertawakan lumayan ganteng. Hahaha.
Di dermaga inilah iPhone saya nyaris menjadi warga Thailand


Selain kejadian-kejadian yang saya sampaikan di atas, ada juga hal-hal menarik lainnya yang dijumpai di Thailand. Pertama, selama saya di sana, semua petugas pengoperasian bus (sopir, kondektur, penjual tiket) adalah perempuan (ibu-ibu), begitu pula dengan kapal dan jasa lainnya sepeti toilet dan restaurant, kebanyakan adalah ibu-ibu. Kedua, kebersihan di kota Bangkok dan Pattaya sangat terjamin. Sampai-sampai, toilet di terminal bus juga sebersih toilet di mal dan hotel mahal. Nah, untuk kebersihan di toilet ini, saya punya cerita juga. Jadi, saat saya masuk toilet, saya letakkan botol minum plastik saya,  di dekat wastafel bercermin karena saya mau masuk ke toiletnya. Lalu saat saya selesai dan keluar, saya sudah tidak menemukan botol tersebut. Saya tanya ke petugas yang jaga, mereka bilang tidak ada. Hiks, sedih, karena saya senang botol itu. Besar, hasil dari 100% daur ulang, saya beli di Bali. Dan saya tidak menemukan botol seperti itu di Jakarta. Karena terlalu bersih, apapun bentuknya, jika dianggap sampah, mereka bersihkan.

Liburan yang penuh kejutan. Itulah yang membuat saya selalu senang untuk berlibur tidak dengan tour and travel. Banyak hal-hal unik dan cerita menarik yang hanya dapat kita temukan dan dapatkan dari interaksi kita dengan penduduk asli daerah/negara yang kita kunjungi. Tapi kalau lagi mau enak-enak saja dan tidak mau banyak berpikir, maka saya akan ikut tour and travel.

Salam JaMak, Jalan dan Makan.

Friday, December 22, 2017

Hari Ibu

Hari ini hari jumat tanggal 22 Desember 2017, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Semua timeline medsos berisi tentang hari ibu, baik ucapan maupun meme.
Buat saya, memang jadi kurang gregetnya, karena sudah tidak memiliki sosok ibu di dunia. Beliau sudah kembali ke rumah penciptanya 4 tahun yang lalu.
Bersyukurlah mereka yang masih memiliki ibu.

Di luar kemeriahan tentang hari ibu, ada hal yang membuat saya ingin menulis atau lebih tepatnya ingin mengunjungi blog saya ini yag sudah sangat lama saya tinggalkan.

Berawal dari beberapa waktu yang lalu, saya lupa kapan tepatnya, ada seorang tetangga yang menyapa saya saat sedang membersihkan halaman. Setahu saya, tetangga ini, seorang ibu, yang sudah pindah rumah karena ikut anaknya yang menikah. Singkat cerita, mungkin lebih tepatnya adalah curhat, ibu ini merasa gundah gulana karena kondisi rumah tangga anak yang mengajaknya pindah dan tinggal bersamanya tersebut. Suaminya (menantu sang ibu), memaksa si anak untuk memilih antara dirinya (mantu) atau sang ibu. Hal ini karena menantu tersebut tidak senang dengan keberadaan sang mertua (sang ibu). Akhirnya anak ibu itu memutuskan untuk tetap bersama ibunya dan pindah kembali ke rumah lama (rumah ibu).

Miris, masih ada manusia seperti itu. Dia kenal anaknya (istrinya), karena ada ibu yang melahirkannya ke dunia. ‘Apabila dia ingin menikah (dahulu), dia harus siap menikah dengan anjingnya’.

Tapi, pasti besar upah dan pahala anak yang membela ibu yang telah melahirkan dan merawatnya.

Itulah Hari Ibu, hari ini.

Wednesday, December 15, 2010

Lanjutan Iseng

Yang ada dalam pikiranku saat membuat tulisan yang berjudul 'iseng' adalah, itu yang terakhir.
Tapi kenyataannya saat ini adalah, itu merupakan awal.

Huahuhuhu..sedih sekali

Berikutnya bertambah jumlah temanku yang memutuskan untuk mengakhiri bahtera rumah tangganya.

Harapanku adalah jangan sampai bertambah lagi jumlah yang akan masuk dalam hitunganku. Amin.

Ada suatu kekhawatiran yang merasuk ke hati.
Tapi aku akan selalu berusaha untuk bertahan sampai Engkau sendiri yang membuat keputusan.
Jangan sampai aku mempermalukan nama-Mu.
Berilah kesabaran dan hati yang baik, bersama Engkau.

Monday, October 26, 2009

Iseng lagi

Nah kalo yang iseng kali ini, kejadiannya masih fresh. Baru terjadi hari minggu kemarin.

Gw n my hubby liat2 ke REI Expo. Eh, ga disangka-sangka, laki ane ngeliat sosok seorang cowok yang ternyata adalah mantan suami temen gw. Kenapa ini mjd special adalah karena tuh cowok ninggalin temen gw itu, begitu saja. Tanpa babibu.

Trus yg gw terkesima adalah. Tuh cowok jalan bareng perempuan, yang ud pasti his new wife-lah, yg sangat jauh dari yg gw bayangkan. Krn dlm opini gw selama ini. Kalo cowok ninggalin istrinya utk perempuan lain, sudah pastilah tuh perempuan mempunyai kelebihan yang luar biasa dibanding istri pertamanya.

Ternya, itu jauh dari yg gw bayangkan. Yg gw liat saat itu adalah, perempuan bulet, gembrot, n biasa sekali tampangnya. Walah, kaget banget gw. Temen gw itu intelektual tinggi, secara lulusan amerika gitu loh. Punya pekerjaan bagus, rajin merawat diri. Pokoknya okelah. Lah, kok bisa2nya tuh cowok beralih ke perempuan yg spt itu.

Oops, mulai lagi gw menghakimi. Tapi ya itulah. Semuanya misteri. Mungkin yg dilihat cowok itu berbeda dengan apa yg gw liat. Tapi satu hal yang pasti adalah, bahwa laki2 itu bukan jodoh yang baik untuk temen gw. Mudah2an temen gw menemukan tambatan hatinya yang sejati. Amin.

Iseng 2

Lanjut lagi isengnya.

Ada juga opa oma yang saling ga 'enakan'.

Ceritanya berawal dari bergabungnya kaum bapak di kelompok PS ibu2. Kaum bapak ini membawa seorg dirigen yang langsung memimpin PS ibu2 ini menjadi PS gabungan. Alasannya krn kaum ibunya makin menipis.

Yang bingung sebenernya gw, krn jd ada 2 dirigen hari itu. Bingung ikut yang mana.

Eh, selanjutnya, kedua dirigen itu malah tidak ada yang nongol di latihan. Walah. Runyam. Yang dirigen lanang, bilangnya menyerahkan ke dirigen wedok. Nah yang wedok mungkin masih merasa ga nyaman. Jd ga datang. Bilangnya sih ada job.

Hmm..yang ketumpuan adalah pianis. Terpaksalah ane melatih. Mereka sih seneng, gw nya bercucuran keringat.

Ada2 aja opa n oma ini.

Iseng

Udah malem nih. Hari ini ga ngajar karena murid ga bisa les. Di rumah, hujan deras sekaleee..sampe takut. Sekarang, iseng2 nulis ah.

Ada hal-hal yang bagus buat di inget sepanjang minggu yang lalu.

Selama ini sudah terbentuk dalam pikiran gw kalo yang namanya sopir angkutan umum itu ga ada yang berhati baik. Melihat dari cara mereka bertugas, sepertinya mereka sudah tidak punya hati nurani. Yang penting dapet uang setoran.

Tapi kali ini beda. Pulang dari sekolah, gw naik angkot seperti biasanya. Kemudia ada penumpang perempuan turun di jalan yang lumayan padat malam itu. Setelah memberikan ongkos, dan mengembalikan kembaliannya, berangkatlah angkot dengan merayap karena padat lalin-nya. Ga lama bergerak, tiba2 sopir angkotnya membanting uang yang di berikan penumpang tadi sambil berkata agak panik :"Sial, gobanan!". Wah, ternyata uang dikembalikan tidak sesuai karena sang sopir pikir, uangnya 20 ribuan. Trus temen di samping sopir berkata :"Udah sana, kembaliin, biar gw yg bawa mobilnya (maksudnya ke pangkalan)."

Gw langsung terhenyak. Merasa bersalah sekali. Gw sampe pengen bilang ke kedua sopir itu bahwa Tuhan menyayangi kalian. Semoga dengan kejujuran itu, kalian selalu memperoleh kedamaian dan kebahagiaan. Tapi gw ga berani. Gw cuma bersyukur bahwa TUhan telah membuka hati gw untuk tidak menghakimi orang lain. Masih ada manusia2 yang mempunya hati di dunia ini. Walaupun mungkin sangat sulit mencarinya. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Wednesday, September 16, 2009

PEROKOK OH PEROKOK


PEROKOK OH PEROKOK
Perjalanan pulang malam mini benar-benar perjalanan yang penuh perjuangan. Legaaaa banget akhirnya bisa sampai di rumah.
Seperti biasa, hari ini aku mengajar di taman surya sampai pk.18.30. Yang tidak biasa adalah, pada saat waktunya pulang, my soulmate menelepon dan memberitahukan bahwa doi tidak bisa menjemput diriku. Sedih sih, tapi apa boleh buat. Pekerjaannya di kantor menumpuk. Maklum, sudah mau libur hari raya.
Singkatnya, aku pulang dengan menggunakan kendaraan umum. Dimulai dari menunggu angkot di taman surya. Dari menunggu dengan perasaan santai tapi berharap, sampai akhirnya sudah tidak ada perasaan apa-apa, itu angkot ga muncul-muncul. Akhirnya aku putuskan mau cari ojek. Sebenarnya aku malaass sekali untuk naik ojek. Pertama, lebih mahal memang. Tapi sepadan karena waktu tempuh lebih cepat. Kedua, mereka sering sembarangan mengendarai motornya. Aku jadi takut jatuh dan deg-degan. Itulah kenapa aku tetap cinta angkot.
Di saat-saat kritis aku mau cari ojek. Eh, tiba-tiba terlihatlah sesosok bentuk kendaraan minibus, berwarna merah pula. Duh, senangnya. Tapi ternyata saudara, angkot itu mau pulang dan bukan angkot trayek di daerah itu. Yah, gigit jari lagi. Tapi puji Tuhan, ga lama berselang, di belakang angkot pertama tadi muncul juga angkot tumpanganku. AKhirnya aku naik angkot tsb. Total waktu menunggu lebih kurang 35 menit.
Perjalanan setelah itu juga bukanlah perjalanan yang menyenangkan. Angkotnya ternyata isi bensin dulu, belum macet yang super heboh dari taman palem ke cengkareng. Pembangunan fly over, plus orang belanja lebaran, plus kendaraan, plus debu, membuat semakin berwarna perjalanan dengan angkotku tercinta.
Akhirnya sampailah diriku di perempatan cengkareng. Lalu aku lanjut untuk naik angkot berikutnya. Di angkot ini sih ga terlalu aneh dan ajaib. Tapi angkotnya seperti melayang-layang. Jalannya ga mantep. Ya sudahlah, aku nikmati saja. Dan tibalah aku di perempatan mal puri. Lalu aku berganti kendaraan menggunakan kopaja.
Sebelum aku naik kopaja itu, ternyata salah satu kopaja yang lain sudah memindahkan penumpangnya ke kopaja yang akan aku tumpangi. Alhasil, penuhlah kopaja tsb. That’s ok. Yang tidak ok adalah, ada kopaja berikutnya yang juga memindahkan penumpangnya ke kopaja yang aku tumpangi. Total, dua bus yang berisikan penumpang telah berpindah ke kopaja yang aku tumpangi. Kebayang ga gimana riuhnya di dalam bus. Mungkin seperti ayam atau kambin yang mau dibawa ke tempat pemotongan. That’s ok. Itulah resikonya pengguna angkutan umum. Walaupun sebagai penumpang sih aku pengennya angkutan umum itu bisa seperti angkutan umum di singapur or di Australia. Tapi itu sih mimpi di siang bolong. So, just live with it. Terima nasib.
Pada saat aku naik bis tsb, memang ada penumpang yang merokok dengan perasaan bersalah, kalo boleh dibilang begitu. Karena kalau diperhatikan, doi ga nyaman merokok, it’s obvious. Tapi mungkin karena sayang rokoknya cuma punya sebatang dan ga bisa beli lagi or karena tanggung, akhirnya doi tetap memaksakan merokok. Lalu aku liatin aja itu orang. Lama-lama doi ga enak juga, akhirnya dimatikan lah itu rokok. Good.
Tapi kok ternyata masih terasa bau rokok. Lalu aku coba menengok ke belakang. Karena tempat aku berdiri di dalam bis penuh sesak, maka aku agak sulit untuk melihat orang tsb. Lagi pula, dalam benakku hanya ada satu pikiran yaitu aku harus waspada terhadap tasku. Singkatnya akhirnya aku menemukan sosok orang tsb. Pertama aku hanya liatin aja orang itu. Terus dan terus. Tapi ga ada respon. Rokoknya tetap nempel di bibir mulutnya, menyala. Padahal di depan orang tsb, juga berdiri penumpang lain yang kepalanya or rambutnya sangat mungkin tersundut oleh rokok orang itu. Keseeeellll banget. Aku hanya bisa pasrah. Tapi tiba-tiba, mukaku diserbu oleh abu rokok orang itu. Maklum, kaca-kaca bis terbuka dengan sangat anggunnya. Wah, naik pitamlah diriku. Tapi aku mencoba untuk tetap elegan dalam menegur orang tsb. “Pak, bisa minta tolong dimatikan dulu rokoknya?” lalu orang tsb bertanya dengan mulut yang tertutup karena mempertahankan rokoknya. “Kenapa?’, katanya. Aku ulangi lagi pertanyaanku. Jawabannya bener-bener bikin gue gemeteran. Gemeteran karena menahan keseeelll. Dia menjawab. “Susah! Lagian kan ga dikebulin”. Maksudnya ga ada asapnya barangkali. Gemezzz banget. Tapi masih tetap dengan menahan emosi jiwa dan berusaha untuk tetap elegan, aku membalas. “Tapi abu rokoknya kena ke muka saya pak”. Lalu jawabnya, “ooo”. Kemudian mematikan rokoknya. Grrrr..
Setelah aku turun dari kopaja, bapak itu masih mengamat-amati diriku. Takut juga sih. Sambil terus berdoa, aku cepat-cepat melarikan diri untuk ganti ke angkot berikutnya. Fyuuuhhh..here I am now. Lega udah sampai di rumah.
Yang mengganjal pikiranku adalah, apakah berhubungan dengan rokok dan menjadi pemujanya itu, menjadikan orang tumpul hati, ga punya hati nurani, ga punya perasaan, menindas hak asasi orang lain, egois. Sampai-sampai di situasi dan kondisi yang sudah sedemikian padatnya. Yang untuk cari oksigen diantara manusia-manusia di dalam bis kota saja sudah sulit, harus ditambah pula dengan asap dan sisa pembakaran dari perokok. Please deh. Sepertinya orang-orang perokok itu takut kalau-kalau sekian menit or detik berikutnya mereka akan mati dan tidak bisa merokok sebelum ajalnya. Jadi harus saat ini, detik ini, merokok ya merokok. Hidup rokok!! Ga harus gitu kan?
Mudah-mudahan ga ada yang ketiga kali deh. Karena sebelum kejadian mukaku tertebar abu rokok, aku juga pernah tersundut api rokok di bis karena perokok itu memegang rokok yang menyala, lalu aku harus berpegangan yang ternyata api rokoknya jatuh di tanganku. Sedih banget ya. Kesel banget ya.
Sadarlah hai para perokok. Merokoklah pada tempatnya. Hormati orang lain.

Wednesday, February 16, 2005

Valentine's Day

34 menit sudah berlalu dari tanggal 14 Februari, yang artinya bahwa valentine's day juga sudah berlalu 34 menit yang lalu. Waktu itulah dimana gue mengisi blog ini. Sebenernya Valentine's Day buat gue sama aja dengan hari2 lainnya. Kalaupun ada yang memberi ucapan selamat, paling2 dari murid or temen. Itupun paling2 cuma 1 atau 2 orang aja. Tapi ada yang beda untuk valentine's day hari ini. Yang terutama adalah, bahwa gue gak bisa tidur malam ini, sehingga jadilah gue ngisi blog ini. Lalu yg berikutnya adalah keterkejutan gue setelah menerima sms ucapan happy valentine dari orang yg gak gue sangka2. Terus terang aja, orang ini udah gue erase dari hp gue. Semua msg dr dia udah gue hapus. Tapi justru dialah yg memberi ucapan happy valentine. Seneng sih, tp gw jd inget2 lagi deh. Yah, akhirnya antara perasaan seneng plus yg laen2nya, akhirnya gue bales deh tuh sms. Gue pikir dgn bilang kangen N minta ditelpon, doi bakalan seneng...tapi...hahaha. .boro2 ditelpon, dibales juga kaga tuh sms. Gak papa sih. Cuma ternyata, sepertinya emang gue gak boleh contact2an lagi ama dia. Padahal gue bener2 tulus berharap bahwa dia tetep sayang ama gue, walaupun gak valentine's day. Seperti dulu, rela nemenin gue ampe pagi. Sekarang, jangankan nemenin ampe pagi, nanya kabar aja gak pernah. Tapi ya itulah hidup. Manusia berubah. Tapi cinta dan kasih sayang tidak pernah berubah, tetap akan menjadi hal yang terbesar di antara ketiga hal berikut yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Oleh sebab itu, salinglah kita mengasihi satu sama lain setiap detik, niscaya akan terciptalah dunia yang damai.
Happy Valentine's Day!!!

Friday, January 21, 2005

Gonggongan Anjing

Yap! gonggongan anjing. Gonggongan anjing lebih sering membuat kita kesal karena berisik, atau membuat kita takut. Tapi kali ini hal itu tidak berlaku. Kali ini saya merasa bahwa gonggongan anjing memberi kesan istimewa.
Begini ceritanya :
Hari ini kebetulan saya di rumah, dan seperti biasa, kalau di rumah pasti tidak ada habis2nya melakukan pekerjaan rumah tangga. Begitu pula siang hari ini. Saya sedang asyik dan konsentrasi beres2 di dapur ketika tiba2 anjing saya menggonggong. Tentu saja saya kaget, dan spontan berteriak :"Dasar anjing cerewet, gak ada apa2 aja pake gonggong2."
Tapi karena penasaran, akhirnya saya melongok juga ke halaman belakang. Dan ternyata anjing saya menggonggongnya ke arah halaman depan. Lalu saya berjalan ke halaman depan, tapi saya tidak melihat ada orang lain/tamu. Akhirnya saya kembali melanjutkan pekerjaan saya di dapur sambil tertus mendengarkan gonggongan anjing.
Hanya selang beberapa detik, tiba2 ada bunyi gedubrak dari arah halaman depan. Saya lalu kembali melihat ke arah pagar depan karena bunyi gedubrak itu adalah bunyi fiber penutup pagar apabila dipukul. Betapa kagetnya saya ketika melihat ada sosok putih di bagian bawah pagar yang sedang berguling-guling. Sepintas saya pikir itu adalah kelinci saya yang berusaha mau keluar (maklum gak pake kacamata :). Tetapi setelah saya dekati, ternyata sosok putih itu adalah seekor kucing yang lehernya terjerat tali dengan kuatnya dan sedang berusaha untuk melepaskan diri. Kucing itu sudah tidak bisa mengeong ataupun mengeluarkan bunyi2an lain. Dia tidak bisa bernapas.
Melihat itu, saya langsung berlari kembali ke dalam rumah untuk mengambil gunting. Dan tanpa berpikir lagi bahwa kucing tersebut bisa saja melukai saya karena dia sedang kesakitan dan panik, saya lalu mencoba menggunting tali yang melilit kuat di lehernya. Tapi untunglah setelah dua kali saya menggunting, karena eratnya tali tersebut melilit, akhirnya kucing itu bisa terbebas dari penderitaannya. Setelah terbatuk-batuk dan bengong2 sedikit, kucing itupun dapat berjalan kembali.
Finally, thanks to bimba (my dog), coz of his bark, I can save one cat's life.
PS. Untuk teman2 yang punya anak kecil atau teman2 sendiri yang suka usil terhadap binatang, cobalah untuk tidak menyakiti binatang atau membuat mereka menderita, karena binatang pun seperti kita manusia yang punya rasa sakit dan merasa tersiksa bila dijahati. Ok.

Sunday, December 12, 2004

No title

Hari ini gue baru bisa ngerasa seneng tuh, dr kmrn2 rasanya gloomy terus. Padahal kmrn itu supposed to be my special day...thx 2 fs, semua org jadi tahu deh..hmmme...Akhirnya, ada juga film yg berkesan, dan bisa bikin gue cheer...seneng deh rasanya, walaupun masih ada ganjelan krn keisengan gue, akhirnya temen chat gw ngambeg..(mungkin)..hikssd
Generally today is better than yesterday :)